Selalu Ada yang Lain

Saya teringat pertama kali putus dengan pacar pada tahun 2005 saat di bangku kuliah semester lima kemudian kisah tragis itu berlanjut tahun 2006 di semester ke tujuh. Kalau kamu bertanya seperti apa rasanya diputus pacar, kamu perlu membaca tulisan berjudul “Doa Putus Cinta“. Di situ terungkap sebagian perasaan saya bahkan perasaan yang dialami oleh kamu yang baru putus. Satu hal yang kamu rasakan adalah rasa kesepian. Biarpun ada bagitu banyak teman-teman yang menghibur kamu atau sibuknya kegiatan yang kamu lakukan, kamu pasti merasa sepi. Seakan ada yang hilang dalam diri kamu bahkan kamu kadang bengong sendiri di tengah-tengah tawa teman-teman di sekitarmu.

Putus cinta itu tidak enak. Seakan ada sejuta tanda tanya di kepalamu yang ingin segera dijawab. Kadang kamu juga masih berharap bahwa dia jodohmu dan ingin sekali dia bisa bersamamu lagi. Di satu sisi kamu kesal dan benci atas apa yang dia perbuat kepadamu. Kadang kamu berusaha menyalahkan dirimu dan kadang menyalahkan dirinya. Atau kamu berusaha ingin menemukan pembenaran setelah berbagai analisa di kepalamu dan jawaban-jawaban yang kamu temukan bahwa mungkin dia masih cinta padaku. Di satu sisi kamu juga malu pada orang-orang sekitarmu bahwa hubunganmu berakhir apalagi kamu yang diputus. Buat kamu yang laki-laki bisa punya alasan, “Laki-laki itu pantang putusin cewe, biar cewe yang putusin cowo!”, padahal tetap saja kamu rasanya gondok luar biasa. Atau buat para perempuan, “Cowo begitu mah banci, masa dia yang putusin cewe“. Intinya nasib cewe atau cowo saat diputusin tetap sama yaitu kecewa.

Siapa sih yang merasa bahagia kalau dia diputusin seseorang? Jawabannya nggak ada, meski dia itu playboy sekalipun. Mengalami penolakan itu hal yang tidak menyenangkan dan itu sungguh ciri khas manusia. Makanya saat kamu putus, perasaan kamu berada di wilayah abu-abu, orang-orang bilang itu galau. Yang paling terasa itu tubuh kamu, udara panas tapi terasa dingin, bulu kuduk kadang berdiri dan kamu mendadak gemetar, dada sesak, malam ga bisa tidur, bangun tidur rasanya sepi luar biasa.

Apa yang kebanyakan orang lakukan saat putus dengan pacar? Mereka ingin menemukan jawaban. Bukan berarti saat putus, komunikasi juga selesai. Kamu pasti ingin berusaha membujuk lawan jenismu agar kembali. Segala strategi kemudian dipasang entah menanyakan alasan putus, bujuk rayu agar pasanganmu mau baikan lagi sambil minta-minta maaf atau minta bantuan teman-teman untuk mempromosikan kalau kamu orang yang terbaik di depan dia. Kamu jadi rajin menelepon, bahkan tidak jarang kamu datang ke rumahnya sambil nangis-nangis dan minta untuk rujuk kembali. Selain itu kamu mulai curhat sana-sini, berusaha mencari pembelaan. Semakin kamu curhat bukannya kamu malah semakin baik tapi yang ada semakin sepi. Nasihat orang-orang yang ada di sekitarmu itu hanya sambil lalu. Akhirnya kamu tetap mencoba ingin bertemu dengan dia. Ada kalanya kamu berharap-harap bisa bertemu dia di tempat kamu bertemu saat pacaran dulu. Setiap jalan kamu clingak-clinguk tanpa alasan berharap tanpa sengaja bertemu dengan dia. Itu adalah hal normal yang terjadi saat kita putus cinta tetapi saya akan membagi tips buat kamu. Tips manjur adalah lupakan dia dan move on!

Pengalaman putus yang bertama dan putus kedua yang saya alami adalah hal yang berbeda. Pengalaman putus pertama saat itu saya masih amatir. Saya sampai habis ratusan ribu untuk beli pulsa, mencoba menelepon dia berjam-jam, mengirim email, sms dan lain-lain yang menyatakan bahwa saya masih cinta dan sayang dengan dia. Bahkan dengan gempuran puisi-puisi cinta bahwa saya tidak bisa hidup tanpa dia. Saya bahkan merengek-rengek minta balik dan hal-hal lain yang kamu pun tahu seperti apa. Hasilnya nothing! Bukannya bikin dia balik lagi, malah si cewe makin muak dengan saya. Satu bulan saya melakukan hal itu, sampai di satu titik saya kemudian menyadari, “Kok bodoh banget yah gue!”. Akhirnya saya putuskan dengan bulat, “Mulai hari ini gue ga akan lagi hubungin dia!”. Mulai hari itu saya hapus semua kontak dia di handphone, sms, email dan hal-hal yang membuat saya ingat dengan dia saya hapus total. Akhirnya saya bisa move on juga.

Pengalaman putus yang kedua saya lebih professional. Saat dia bilang putus, saya cuma bilang, “Kenapa?”. Eh dia nangis terus teleponnya langsung diputus. Kali ini saya lebih setrong (strong), tidak mau lagi saya seperti sebelumnya yang terlihat bodoh. Akan tetapi saya juga tidak se-setrong yang kamu kira. Tetap saja galau! Saya bahkan mencoba menghubungi dia satu kali dan itu pun tidak diangkat. Setelah itu saya tulis email perpisahan yang sangat lebay (saat saya baca email ini sekarang kok malah menjijikan sekali). Intinya di email itu saya bilang bahwa terima kasih atas hubungan yang pernah terjalin dan semoga dia bisa menemukan jalan yang paling baik dalam hidupnya. Keliatan dewasa sekali yah emailnya, padahal isinya ada kata burung gereja lah yang terbang bebas, dan lain-lain, pokoknya nggak banget.

Akhirnya saya tidak sama sekali menghubungi dia, kontaknya saya hapus, sms juga bahkan saat ketemu teman-teman dia, saya bersikap biasa saja, tidak ada curhat-curhatan seakan tidak terjadi apa-apa. Kalau ada temannya yang bertanya, saya cuma jawab bahwa kita sudah putus dan hubungan itu sudah berlalu dengan wajah cuek seakan-akan mau bicara, “Gue ga butuh dia kalee!” Padahal hati ini meriang, nangis, sedih, kesepian dan luluh lantak bagai butiran debu. Saya curhat dengan dosen dan orang-orang yang tidak kenal dengan dia, minta pendapat dan belajar dari pengalaman mereka. Intinya mereka semua bilang bahwa lupakan dia dan fokus belajar. Saya menuruti saran mereka. Skripsi yang terlambat hampir satu tahun langsung selesai dalam tiga minggu. Seakan saya memperoleh tenaga yang luar biasa di tengah-tengah kepedihan putus cinta. Saya lulus kuliah tepat waktu dan mendapat pekerjaan yang luar biasa di luar negeri.

Rasa-rasanya saya ingin membandingkan kesuksesan dan pengalaman ini dengan pengalaman dia, tapi apalah gunanya toh saya juga sudah move on dan berhasil. Bahkan saya bersyukur bahwa saat itu dia bilang putus dengan saya, kalau tidak saya tentu tidak akan lulus kuliah tepat waktu bahkan tidak pernah bisa bekerja di luar negeri karena pasti tidak mau meninggalkan dia. Saya sekarang punya ratusan teman-teman bule, pergaulan yang luar biasa lintas budaya dan pengalaman yang tidak bernilai karena saya bisa move on. Bahkan Saya berencana akan membuat rubrik khusus perjalanan saya ke negara-negara yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya  agar kamu tahu bahwa saat kamu putus dengan pacar tidak sama dengan kiamat melainkan jika kamu melihatnya secara positif maka kamu bisa lebih maju.

Teman-teman, rasa kecewa pasti ada, rasa sedih dan ditolak tidak akan hilang sesingkat yang kamu kira. Akan tetapi kamu perlu ingat bahwa akan selalu ada yang lain dalam hidup kamu. Jangan kamu habiskan energimu untuk dia yang jelas-jelas sudah menolakmu atau tidak lagi melihat kamu yang terbaik. Asal kamu tahu bahwa dia sudah menganggap kamu barang bekas jadi kalau kamu mau dipakai lagi, pasti dia sudah kepepet tidak ada yang lain. Jadi bikin dirimu sebagai barang yang baru buat yang lain. Ini memang tidak mudah tetapi, “Saya tidak bisa menjawab mengapa manusia sedemikian rentan terhadap konsekuensi hubungan, terhadap penderitaan; ada begitu banyak penjelasan sekaligus ada begitu banyak hal yang tidak bisa dipikirkan tetapi hanya bisa dirasakan. Rasakan kegelapan di siang hari itu dan peluk kelengangan jiwa, bukan untuk tenggelam dalam mengasihani diri sendiri, tetapi untuk memberi ruang bagi jiwa yang sedang ingin menangis, yang ketakutan, yang sendirian”. Itulah kutipan dari dosen saya Karlina Supelli di malam saya putus dengannya.

Ayo kita move on karena dunia ini masih terbentang begitu luas dan saya jamin kalau kamu berani, kamu akan sukses menjadi orang dewasa. Menutup tulisan ini, dibawah ini adalah sebuah puisi yang dihadiahkan oleh dosen saya ketika saya putus cinta;

Saya tuliskan puisi Pablo Neruda untuk Anda: tiba-tiba kita menemukan diri tersesat di tengah hutan untuk menyadari bahwa masa kanak-kanak kehidupan sudah lewat“.

Lost in the forest… by Pablo Neruda

Lost in the forest, I broke off a dark twig
and lifted its whisper to my thirsty lips:
maybe it was the voice of the rain crying,
a cracked bell, or a torn heart.
Something from far off it seemed
deep and secret to me, hidden by the earth,
a shout muffled by huge autumns,
by the moist half-open darkness of the leaves.

Wakening from the dreaming forest there, the hazel-sprig
sang under my tongue, its drifting fragrance
climbed up through my conscious mind

as if suddenly the roots I had left behind
cried out to me, the land I had lost with my childhood—
and I stopped, wounded by the wandering scent.

Mas Gandeng

Tulisan Terkait

Doa Putus Cinta
Cara Putus dari Pacar
Aku Ingin Berhubungan Seksual
Dia Ingin Aku Foto Telanjang
Perlukah Pacaran
Jodoh di Tanganku
Pacar Teman Satu Kantor

Advertisements

4 comments

  1. […] tentu kamu akan melalui masa pacaran itu dengan mulus sampai ke jenjang pernikahan, bahkan kadang kamu harus putus dengan beberapa orang sampai akhirnya kamu menemukan orang yang tepat dalam hidup kamu untuk […]

    Like

  2. […] Saat putus dengan pacar dan di tengah-tengah rasa kekecewaan, kamu berdoa semoga dia yang menolaknya adalah jodohmu sambil membayangkan kamu baikan dan melanjutkan hubunganmu sampai ke jenjang pernikahan. Atau saat kamu sedang pacaran dan dipenuhi dengan perasaan berbunga-bunga serta hasrat cinta, kamu yakin bahwa pasanganmu ini adalah jodohmu. Atau saat kamu sedang dirundung kesedihan, orang-orang menghiburmu dengan berkata, “Jangan sedih, hidup, mati dan jodoh di tangan Tuhan!”. Dengan demikian, jodoh itu adalah seseorang yang sudah ditentukan dalam hidup kamu bukan? Akan tetapi sayangnya Tuhan itu tidak seperti yang kamu bayangkan. Dia seorang yang pendiam bahkan saat kamu diam dan ingin mendengarkan suaranya, Dia tetap menjadi pendiam yang baik. Saking pendiamnya kamu hanya bisa menerka-nerka tentang jodohmu. […]

    Like

  3. […] dengan sesama rekan kerja bisa tulus atau tidak. Kalau kamu makin sombong sudah pasti jika kamu putus dengan atasanmu, seketika duniamu berubah menjadi mimpi buruk dan siap-siap saja hengkang dari […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: