Uang adalah Segalanya

Prison cell upgrade: $82 per night. 
― Michael J. Sandel, What Money Can’t Buy: The Moral Limits of Markets

Apakah kamu pernah menyadari sebenarnya tujuan kamu hidup itu apa? Apakah aku hidup hanya sekedar kerja, cari uang dan mati? Ataukah aku punya tujuan lain dalam hidup ini, yang lebih bernilai dari sekedar berapa banyak aku bisa menghasilkan uang? Saya pernah membaca sebuah buku yang sangat menarik dari Michael J. Sandel yang berjudul What Money Can’t Buy: The Moral Limits of Markets. Sandel mencoba mengangkat isu etis yang terjadi di dunia yang kita tinggali saat ini, apakah tidak ada yang salah di dunia ini di mana segala sesuatu adalah untuk dijual?

Mungkin kamu pernah mengalami pengalaman ketika kamu mendapat nilai 100 dalam ujian, maka orang tua kamu memberi uang 100.000. Pertanyaannya adalah, haruskah kita membayar kepada anak-anak kita ketika mereka mendapat nilai yang bagus atau kah kita membayar kepada mereka agar membaca buku?  Sandel melihat bahwa kehidupan kita telah melayang dari sekedar ekonomi pasar menjadi masyarakat pasar. Di dalam masyarakat pasar pada akhirnya semua dinilai dengan uang. Kamu sadar tidak untuk buang air saja kamu harus bayar atau kewajiban kamu untuk memilih pemimpin sendiri saja perlu dibayar.

Saya punya pengalaman di kantor dengan rekan kerja yang menjadi sukarelawan untuk mengumpulkan KTP bagi Teman Ahok. Seorang rekan kerja yang lain kemudian bertanya, saya dapat apa dengan mengumpulkan KTP. Kamu bisa membayangkan bahwa kehidupan kamu saat ini semuanya dinilai dengan uang. Dalam masyarakat pasar, uang adalah segalanya! sampai-sampai orang pun berpendapat cinta juga butuh uang. Kalau begitu What Money Can’t Buy?

As soon as public service ceases to be the chief business of the citizens, and they would rather serve with their money than with their persons, the state is not far from its fall. 
― Michael J. Sandel, What Money Can’t Buy: The Moral Limits of Markets

Dengan demikian, kamu tidak usah heran jika kamu hidup hanya untuk bekerja untuk cari uang supaya kamu bisa hidup. 24 jam kamu hidup hanya tentang bagaimana kamu bisa menghasilkan uang agar kamu bisa membayar tagihan atau bisa beli ini dan itu. Menurut kamu, apakah itu kebahagiaan? Menjadi orang yang berbahagia saja kamu butuh uang. Menjadi raja dan ratu sehari saja kamu butuh uang. Sampai-sampai untuk mengucapkan selamat saja, kamu butuh uang. Makanya tidak heran, banyak orang menjual dirinya agar mereka bisa dapat uang. Rekan kerja kamu bisa menghianati kamu asal dia bisa tetap menghasilkan uang atau kamu tidak punya teman jika kamu tidak punya uang. Saya bahkan tidak dipercaya oleh orang-orang ketika saya bilang kalau saya pernah mengunjungi 300 kota di dunia, “Kalau sudah pernah kok bajunya robek dan kulitnya gelap”. Sekali lagi kamu butuh uang (dengan membeli penampilan) ketika kamu ingin orang percaya dengan kamu.

Sekarang menurut kamu, apa yang tidak bisa kamu beli dengan uang?  Kalau kamu bilang kasih sayang orang tua, keliatannya untuk menunjukkan kasih sayang saja mereka butuh uang bukan? Jadi kalau begitu apa? Untuk berbuat baik dan sembayang saja kamu butuh uang dengan menyumbang, berkorban dan lain-lain. Saya tidak akan memberi jawaban dari pertanyaan,  What Money Can’t Buy?  di tulisan ini. Akan tetapi saya ingin memberi sebuah situasi buat kamu yang gencar mencari uang.

Call center technology enables companies to “score” incoming calls and to give faster service to those that come from affluent places. 
― Michael J. Sandel, What Money Can’t Buy: The Moral Limits of Markets

Hantaman Katrina pada 29 Agustus 2005 menghancurkan sebagian AS, dari Louisiana sampai Florida Panhandle. Negara bagian Louisiana dan Mississippi menjadi penderita terparah. Delapan puluh persen Kota New Orleans tertutup banjir setelah tanggul-tanggul pelindung banjir roboh. Sebagian penduduk New Orleans terpaksa mengungsi ke atap rumah selama berhari-hari. Ribuan penduduk yang mencari perlindungan di sebuah arena olahraga tertutup di kota itu, Superdome, akhirnya justru terdampar berhari-hari dengan sedikit makanan dan air minum. Jasad-jasad korban terabaikan. Ribuan bangunan rusak parah dan korban tewas mencapai 1.800 jiwa. Sejuta penduduk harus mengungsi (Baca: 29-8-2005: Katrina, Badai Dasyat yang Mempermalukan AS). Saat itu harga melonjak sampai 1.000%. Sampai disini saya mengakhiri tulisan ini.

Mas Gandeng

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: