Banyak Bicara

A fool is made more of a fool, when their mouth is more open than their mind.
― Anthony Liccione

Pernah tidak kamu bertemu dengan orang yang banyak bicara? atau pernah tidak kita sadar malah kita yang banyak bicara? Ada sebuah penelitian yang mengatakan bahwa bicara itu bisa membuat kecanduan. Ada alasan logisnya, pertama secara alami kita ingin didengarkan dan kedua proses berbicara itu melepaskan hormon dopamin. Hormon dopamin ini adalah hormon yang dihasilkan oleh otak kamu untuk membuatmu lega. Contohnya ketika kamu tertawa, bergurau bahkan saat berhubungan seks, maka otak kamu akan menghasilkan hormon dopamin. Itulah alasannya kenapa kamu terus berbicara karena ada rasa nikmat saat berbicara.

Menurut Mark Goulston ada tiga tahap berbicara kepada orang lain. Tahap pertama kamu berada dalam pembicaraan yang sesuai dan ringkas. Tetapi lama kelamaan kamu akan menemukan bahwa semakin lama kamu berbicara maka semakin pula kamu merasa lega. Begitu nikmatnya sampai-sampai ketegangan yang kamu rasakan menjadi ringan. Tetapi berkebalikan dengan lawan bicara kamu, mendengarkan kamu terlalu lama bicara itu tidak menyenangkan baginya. Itulah tahapan kedua dimana kamu merasa begitu nikmat dan lega berbicara, kamu tidak menyadari bahwa orang lain tidak mendengarkan kamu bicara.

A loud mind is greater than a loud mouth. 
― Matshona Dhliwayo

Akhirnya sampailah kamu ditahapan yang ketiga. Pada tahapan ini kamu menyadari bahwa kamu bicara terlalu melebar kemana-mana dan kamu juga mulai menyadari bahwa kamu mungkin perlu memberi kesempatan teman kamu untuk bicara. Tetapi jika kamu melihat bahwa orang tersebut gelisah mendengarkanmu bicara atau merasa tidak nyaman, bukannya kamu memberi dia kesempatan bicara tapi sayangnya malah kamu berusaha terus bicara untuk mengembalikan minat mereka mendengarkan kamu. Bahasa gaulnya adalah kamu malah salah tingkah.

Apakah kamu pernah menyadari hal itu? Saya juga pernah bahkan sampai saat ini sering mengalaminya. Makanya kadang saya dibilang bawel karena saya ingin terus bicara. Akan tetapi ada satu hal yang menyadarkan saya bahwa benar kalau saya memang terlalu banyak bicara. Saya pernah ditegur oleh teman yang sedang curhat. Sebagai orang yang mestinya mendegarkan, katanya saya terlalu banyak bicara. Tentu hal ini memalukan, tetapi saya juga mensyukuri dia menegur karena saya kembali melihat diri saya mungkin ada hal-hal tertentu yang perlu saya rubah. Untuk itu, saya mencoba mengurai ide Mark Goulston seorang business psychiatrist dan semoga bisa membantu kamu untuk menjalin komunikasi bersama teman, rekan kerja, orang tua bahkan pacar atau pasangan hidup kamu.

Great people talk about ideas, average people talk about themselves, and small people talk about others.
― John C. Maxwell, The 360 Degree Leader: Developing Your Influence from Anywhere in the Organization

Mark mengatakan berbicara itu ibaratnya seperti lampu lalu lintas. Dua puluh (20) detik pertama kamu berbicara adalah lampu hijau. Situasi ini adalah situasi dimana teman bicara kamu menyukainya, dengan catatan sejauh pembicaraan itu sesuai dengan apa yang kamu bicarakan bersama dia. Dua puluh (20) detik berikutnya lampu kamu berubah berwarna kuning. Situasi ini adalah dimana teman bicara kamu mulai kehilangan  minat terhadap apa yang kamu bicarakan atau kamu itu terlalu bertele-tele. Dengan demikian empat puluh (40) detik kamu bicara, lampu kamu sudah berwarna kuning. Lebih dari empat puluh detik maka lampu kamu berubah menjadi merah. Menurut Mark, kamu mungkin ingin tetap bicara tetapi ada baiknya kamu berhenti karena kamu berada dalam “bahaya”.

Jadi lampu merah tersebut adalah langkah-langkah dimana kamu memeriksa diri kamu apakah kamu terlalu banyak bicara. Mungkin menurut kamu penting bahwa kamu bisa lega, atau kamu ingin mengeluarkan ide-ide secara jelas, atau kamu mau bicara karena kamu terlalu banyak mendengar orang bicara. Dan ketika ada orang lain memberikan kamu kesempatan bicara, kamu malah tidak berhenti bicara. Apa pun yang terjadi, yang ada pembicaraan kamu malah memburuk dan menjadi satu arah.

Ada alasan kenapa kamu itu bertele-tele saat bicara karena kamu berusaha memberikan kesan ke temanmu dengan cara bicara cerdas. Nah kamu harus sadari, bukannya kesan bagus yang kamu dapat malah kamu sama sekali tidak memberi kesan yang kamu inginkan ke dia.

I won’t say another word — not one. I know I talk too much, but I am really trying to overcome it, and although I say far too much, yet if you only knew how much I want to say and don’t, you’d give me some credit for it.
― L.M. Montgomery

Nah kamu sudah mengetahui kan sekarang bahwa kenapa kamu atau teman kamu banyak bicara, kenapa saat kamu berkelahi dengan pasangan kamu, teman kamu dan orang tua kamu, masing-masing ingin bicara. Alasannya karena bicara itu membuat kamu merasa nikmat. Akan tetapi kalau saya boleh memberi saran, jika kamu ingin sebuah hubungan yang sehat ada baiknya kamu mulai mendengarkan dan pasanganmu juga mulai mendengarkan. Rasanya nikmat jika kamu bicara dan menumpahkan unek-unek tetapi apalah sebuah komunikasi itu jika suara kamu hanya berlalu bersama angin. Jadi berilah kesempatan kepada pasanganmu untuk menikmati sebuah pembicaraan.

Mas Gandeng

Artikel Terkait

Saat Mereka Marah

Advertisements

5 comments

  1. Anonymous · · Reply

    Tulisannya menarik. Thanks

    Like

    1. Terima kasih telah membaca tulisan ini. Semoga berguna

      Like

  2. […] mereka akan terus bicara dan disitu ada rasa nikmat karena otak melepaskan hormon dopamin (baca: Banyak Bicara). Jadi tindakan bijaksana adalah usahakan tidak menginterupsi saat dia […]

    Like

  3. Anonymous · · Reply

    Saya orang yang banyak bicara. Saat membaca tulisan ini jadi sadar ternyata belum tentu orang mau mendengar saya bicara.

    Like

    1. Thanks sudah membaca tulisan saya.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: