Pindah Agama karena Menikah

God has no religion.
Mahatma Gandhi

Suatu ketika kamu bertemu dengan orang yang kamu suka, kemudian rasa suka itu muncul dan tumbuh menjadi cinta. Begitu cintanya kamu pada dia, sampai kamu tidak melihat apa pun identitas sosial dalam dirinya. Yang ada adalah kamu melihat dia sebagai pribadi yang bebas. Itulah cinta. Cinta adalah sebuah pemurnian yang mengubah kamu dan dia menjadi pribadi yang unik. Cinta mendasarkan dirinya pada kebebasan. Akan tetapi kamu dan dia bukan Tarzan and Jane, bukan? Kamu berdua hidup dalam sebuah komunitas masyarakat dan di dalam komunitas tersebut ada banyak identitas sosial yang melekat dalam diri kamu. Di kantor saya seorang manager, di rumah saya seorang suami, di kampus saya seorang lulusan S2, di mesjid saya seorang imam, di lingkungan rumah saya seorang ketua RT. Identitas-identitas sosial yang melekat dalam diri kita itu didapatkan entah dari orang tua, diberikan kepada kita atau kita dapatkan sendiri sehingga diakui oleh masyarakat sekitar. Agama adalah salah satu identitas sosial. Seringkali sebuah hubungan selalu berbenturan dengan identitas sosial. Ketika kamu memutuskan ingin melanjutkan hubunganmu ke jenjang yang lebih serius yaitu masuk kepernikahan, seketika identitas-identitas sosial itu mulai mengganggu hubungan cintamu yang begitu murni yaitu menghargai kebebasannya.

Prayer is not asking. It is a longing of the soul. It is daily admission of one’s weakness. It is better in prayer to have a heart without words than words without a heart.
― Mahatma Gandhi

Agamamu mulai bicara bahwa menikah beda agama itu haram, orang tuamu mulai bicara bahwa sebuah keluarga hendaknya satu nahkoda dimulai dari agama, tetanggamu mulai bisik-bisik bahwa pasanganmu orang kafir, teman-temanmu mulai memberi saran lebih baik ajak pacarmu jadi satu agama denganmu. Begitu banyaknya pendapat orang di sekitarmu yang bilang tentang apa itu benar dan apa itu salah sampai kamu seperti menjadi anak kecil yang dibilang jangan begini dan jangan begitu. Di satu sisi kamu juga galau dan berada di antara dua pilihan antara pindah agama atau putus dengan calonmu. Seakan-akan pilihan itu cuma hitam atau putih.

Knock, And He’ll open the door
Vanish, And He’ll make you shine like the sun
Fall, And He’ll raise you to the heavens
Become nothing, And He’ll turn you into everything. 
― Rumi

Ketika kamu mengalami hal ini, kamu jangan buat keputusan gegabah dalam hidupmu. Pernikahan itu bukan tawar menawar tetapi menjalani sisa kehidupan bersama dengan orang yang kamu cintai dan membangun keluargamu sendiri. Satu hal yang harus kamu sadari ketika membuat sebuah keputusan adalah apakah keputusan yang kamu buat sungguh-sungguh keputusan yang datang dari hatimu karena agama pasanganmu adalah panggilan hidupmu. Atau apakah keputusan yang kamu buat sebenarnya karena kamu terpaksa. Kamu terpaksa karena pacarmu bilang kalau dia tidak bisa menikah dengan kamu jika kamu masih memeluk agamamu atau karena dia bilang dalam agamanya dilarang untuk menikah beda agama. Atau kamu terpaksa karena keluarganya menuntut kamu pindah agama. Satu hal yang perlu kamu sadari adalah apakah kamu benar-benar rela bahwa agamanya adalah panggilan hidupmu atau hanya karena kamu terpaksa.

My religion is very simple. My religion is kindness.
― Dalai Lama XIV

Teman-teman, kita harus menyadari bahwa orang lain bisa menarikmu dari dalam jurang tetapi mereka bisa juga mendorongmu ke dalam jurang. Yang harus kamu percayai dalam hidupmu adalah dirimu sendiri. Sebuah pohon dikatakan kuat jika ia punya akar yang mencengkram dalam dan tubuh yang kuat sehingga angin sebesar apa pun tidak mudah menumbangkannya. Jika pasanganmu benar-benar mencintaimu maka ia akan menghargai kebebasanmu untuk memilih bukan? Jika ia sungguh melihatmu sebagai pribadi yang unik maka ia akan melihatmu sebagai manusia yang memurnikan dirinya? Jika ia sungguh mencintaimu, bukankah apa pun pilihanmu adalah kebahagiaan untuknya? Dan jika ia mencintaimu maka ia akan membuatmu tumbuh menjadi pohon yang kuat dan memberimu keyakinan bahwa keputusanmu semakin membuat akarmu kokoh.

Saat kamu membuat keputusan bertanyalah apakah benar dia sungguh mencintaimu? Cintamu mungkin tidak diragukan karena kamu siap berkorban untuknya bahkan mengorbankan keyakinanmu tetapi apakah dia juga memberikan pengorbanan dia sebagai orang yang mencintaimu. Cinta itu bukan jalan satu arah tetapi dia jalan dua arah. Jika pacarmu memaksa karena keluarganya menuntutnya dan keluarganya malu karena mereka orang terpandang dengan status sosial yang tinggi, maka kamu pun punya hak untuk menuntut pengorbanan dia atas hidupmu.

Anyone who thinks sitting in church can make you a Christian must also think that sitting in a garage can make you a car. 
― Garrison Keillor

Tetapi terlepas dari tuntut menuntut, pertanyaan saya apalah sebuah agama itu jika kamu tidak menjalankannya dengan sungguh-sungguh. Tidak ada jaminan dengan kamu menyandang identitas agama tertentu, kamu akan menemukan surga jika kamu melakukan itu dengan terpaksa dan bukan merupakan panggilan hidupmu. Kalau kamu sungguh-sungguh mencintai pasanganmu, berjuanglah! Tetapi perjuangan itu bukan untuk menjadi dia sebagai harta benda yang kamu miliki tetapi sebagai pribadi yang kamu hargai kebebasannya untuk menentukan pilihan dan keyakinannya dalam hidup. Masalah teknis lainnya seperti agama si anak, sembayang dan hari raya, dan seterusnya biarlah itu mengalir. Maka belajarlah dari keluarga yang hidup dalam keberagaman karena mereka adalah keluarga yang kaya raya dalam hidup. Dalam pernikahan, bukan salah satu yang berbahagia tetapi kamu berdua yang berbahagia. Makanya dalam masyarakat, kami menyebutnya, “Mempelai yang berbahagia!”

Mas Gandeng

ARTIKEL TERKAIT

Pacaran Beda agama

Advertisements

18 comments

  1. […] Pindah Agama karena Menikah […]

    Like

  2. Anonymous · · Reply

    tulisannya bagus. gw baru kali ini menemukan tulisan yang ga memihak. semua tulisan yg gw temuin di google selalu ngomong kl ini haramlah, ini ga boleh lah, itu lah. bener mas gw kok ngerasa kayak anak kecil. hidup gua kayak diatur-atur. percuma kalau yg gw jalanin itu karena terpaksa

    Liked by 1 person

    1. Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga berguna.

      Like

  3. Anonymous · · Reply

    lebih baik pindah agama terpaksa dari pada satu keluarga beda agama. Haram!

    Liked by 1 person

    1. Terima kasih atas komentarnya.

      Like

    2. Anonymous · · Reply

      Otak orang ini kok dangkal banget yah…haram…haram…haram…aja terus

      Like

      1. Banyak yang seperti ini di Indonesia, makanya pendidikan kita jangan hanya melulu mengejar nilai tapi juga pola pikir kritis perlu dilatih.

        Like

  4. Makasih mas Gandeng, tulisannya mas menginspirasi saya yg juga sedang menjalin hubungan cinta dengan pasangan beda agama, terus menulis mas Gandeng, saya baca post nya mas Gandeng yg juga ah hehe

    Liked by 1 person

    1. Makasih Bung Dwi sudah membaca tulisan ini. Semoga langgeng dan sukses untuk Anda berdua.

      Like

  5. Anonymous · · Reply

    Tulisannya penuh inspirasi. Terima kasih

    Like

    1. Makasih sudah membaca tulisan saya.

      Like

  6. Tata bahasa dan struktur kalimat tulisannya bagus. Tapi isinya kurang cocok buat saya. 1) Bagi saya, Tuhan itu lebih mencintai kita ketimbang pasangan kita mencintai kita. Cinta pasangan bisa berbelok ke mana-mana, tapi cinta Tuhan kepada kita tak pernah berbelok. Persis seperti lagu Bimbo: “Aku dekat, Engkau dekat. Aku jauh, Engkau jauh.” Jadi, kalau disuruh pilih orang atau Tuhan, saya pilih Tuhan. 2) Kalau Tuhan mengharamkan sesuatu, ya saya turut. Toh Tuhan jauh lebih pintar ketimbang saya. Saya nggak peduli Gandhi bilang Tuhan nggak punya agama, wong rujukan saya bukan Gandhi. Seperti pepatah Jawa, “hidup hanya mampir minum”, masih ada perjalanan yang abadi setelah kehidupan dunia. Jadi, berhubung Tuhan lebih pintar daripada saya dan saya meyakini ada kehidupan sesudah mati, ngapain juga menentang Tuhan. Sebab, menentang Tuhan berarti tidak mencintai Tuhan. Begitu kita tidak mencintai Tuhan, ingat saja lagu Bimbo di atas.

    Btw, komentar ini bukan untuk ateis. Bagi ateis, komentar saya nggak ada benarnya samasekali. ;p

    Like

    1. Terima kasih atas komentarnya. Bukankah Tuhan menciptakan manusia agar cinta Tuhan menjadi lebih nyata. Mencintai sesama tidak sama dengan menentang Tuhan dan bukankah perjalanan abadi kita nanti ditentukan bagaimana kita menjalani hidup ini sekarang? Tuhan pun tidak pernah memaksa manusia untuk membuat pilihan bukan, entah kita percaya atau tidak pada-Nya, matahari selalu terbit setiap pagi untuk kita semua. Kebaikan, pilihan, kerelaan, dan segala keutamaan itu datang dari hati bukan karena paksaan. Itulah yang ingin saya tekankan dalam tulisan ini bahwa ketika membuat sebuah keputusan jangan karena terpaksa tetapi memang itu sungguh-sungguh datang dari hati.

      Like

      1. Terima kasih atas balasannya.

        Keterpaksaan, kegalauan, kemarahan terjadi ketika kita membenturkan aturan Tuhan dengan kemauan diri kita, ketika kita mengedepankan manusia ketimbang Tuhan atas nama “perasaan”, “hak pribadi”, “cinta”, dll. Jika kita berserah pada aturan Tuhan dan mengutamakan Tuhan di atas segala-galanya, tidak ada yang namanya terpaksa pindah agama karena menikah.

        Tuhan itu Mahakuasa. Kalau Dia mau, Dia bisa kok menjadikan seluruh orang di dunia ini memeluk satu agama, biar tidak ada yang bingung/terpaksa pindah agama gara-gara orang yang dicintainya beda agama. Tapi Tuhan menganugerahkan free will bagi manusia agar manusia menggunakan akalnya untuk memilih yang terbaik.

        Apa sih yang terbaik bagi manusia? Tuhan tidak menciptakan manusia agar cinta Tuhan lebih nyata—setidaknya tidak begitu di agama saya. Di agama saya, Tuhan menciptakan manusia agar manusia menyembah kepada-Nya. Dan itulah tujuan manusia berada di dunia, yaitu menyembah kepada Tuhan. Dan dengan demikian, manusia perlu mengikuti aturan Tuhan. Jika kita mengikuti Tuhan tertentu, suka tak suka, mau tak mau, sudah seharusnya kita mengikuti aturan Tuhan tersebut. Seperti kita hidup di Indonesia, suka tak suka, mau tak mau, kita harus mengikuti aturan di Indonesia.

        Benar memang bahwa mencintai sesama tidak sama dengan menentang Tuhan, tapi ketika kita mencintai seseorang untuk dijadikan pasangan hidup, kita harus mengecek apakah Tuhan punya aturan untuk suatu perjodohan. Jika memang ada, bukankah suka tak suka, mau tak mau, kita harus mengikuti aturan itu? Dan jika kita tidak mengikuti aturan, bukankah itu artinya kita menentang si pembuat aturan?

        Jadi yang terbaik adalah menjalani tujuan kita diciptakan di dunia, yaitu menyembah kepada-Nya. Dengan demikian kita tidak pernah galau, bimbang, dan akhirnya melakukan sesuatu dengan terpaksa, ketika menemukan seseorang yang tampaknya sempurna bagi kita, karena yang sempurna hanya Tuhan.

        Like

  7. Tulisan serta Sharing bagus, serta kutipan-kutipan dari Mahatma Gandhi, Rumi dll.

    “apalah sebuah agama itu jika kamu tidak menjalankannya dengan sungguh-sungguh. Tidak ada jaminan dengan kamu menyandang identitas agama tertentu, kamu akan menemukan surga”

    Saya merasa agama hanya ciptaan/label dari manusia sendiri. (saya pribadi pemeluk agama).

    Semoga kita yg beragama/non beragama dapat mengerti makna kasih Tuhan yang sesungguhnya didalam perjalanan hidup serta memberikan yang terbaik dalam berkata-kata, bertindak dan berpikir di dunia ini.

    Saya angkat jempol untuk komentar anda ini:
    “Mencintai sesama tidak sama dengan menentang Tuhan dan bukankah perjalanan abadi kita nanti ditentukan bagaimana kita menjalani hidup ini sekarang? Tuhan pun tidak pernah memaksa manusia untuk membuat pilihan bukan, entah kita percaya atau tidak pada-Nya, matahari selalu terbit setiap pagi untuk kita semua. Kebaikan, pilihan, kerelaan, dan segala keutamaan itu datang dari hati bukan karena paksaan. ”

    Trims atas sharing blognya.

    Like

    1. Saya tidak tahu apa agama Anda yang Anda peluk, tapi jika Anda muslim dan berkata bahwa “agama hanya ciptaan/label dari manusia sendiri”, Anda perlu membaca surat Al-Maidah ayat 3

      Like

      1. Wah gua sih sependapat nih, agama itu kan bentuk proyeksi manusia bagaimana ia memahami misteri Allah. Ibarat jalan, agama itu jalan menuju Allah. Nah jalan itu kan dibuat manusia untuk mendekatkan diri ke Allah. Jadi jangan berpikir mentok sama jalannya dong. Berpikir ke Allah yang universal. Ke kebaikan universal. Gua muslim tapi gua ga setuju tentang bagaimana agama memaksa pilihan orang lain. Wong gua beragama aja karena pilihan gua sendiri bukan karena kewajiban. Nah kalau memang Allah kasih jodoh gua orang Budha, terus gua mau apa? Mau menentang perintahnya? terus mau maksa pasangan gua masuk Islam. Gua rasa ga bisa kayak gitu. Kenapa sih ketakutan banget jika ada orang pindah agama. Takut karena para pemimpin agama itu ga ada pengikut terus ga ada kerjaan? Ga usah lah pusing pusing ama jalan. kalau memang mau lewat jalan berbeda fine aja toh, asal sampe kan ke tujuan. Mau lewat jalan atheis juga ga apa apa kan? nyasar dikit. gitu aja kok repot.

        Like

      2. Ridwan A · · Reply

        Saya menangkap tulisan mas Gandeng ingin mengembalikan pemahaman dasar mengenai hubungan Tuhan dan manusia. Bagi saya ini bukan tulisan Atheis karena beda antara atheis dengan orang yang tidak beragama. Orang yang tidak beragama masih percaya adanya Tuhan tapi atheis jelas dari asal kata A-Theis alias tidak bertuhan. Patut saya akui bahwa agama kadang mengasingkan manusia itu sendiri dengan Tuhan. Alasannya adalah orang lebih percaya dan menjadi berlebihan dengan agamanya padahal yang dituju sebenarnya adalah Tuhan itu sendiri.

        Saya sependapat dengan Flea bahwa jalan apapun yang ditempuh asal itu menuju kepada yang ilahi ga ada masalah. Kenapa harus mati-matian lewat jalan yang sama kalau salah satunya terpaksa. Yang ada bukannya malah menemukan Tuhan jadinya menemukan Saiton. Kalau kita membedakan agama kita punya tuhan yang berbeda dengan agama lain, menurut saya itu murtad karena kita malah menganggap Tuhan ada banyak. Asyhadu an-laa ilaaha illallaah (Saya bersaksi tiada Tuhan (jamak) Selain Allah (tunggal, yang esa). Kalau kita percaya dengan Tuhan yang esa dan yang lain pun percaya dengan Tuhan yang Esa, berarti bukankah itu Tuhan yang sama? Kenapa seakan berbeda karena Tuhan itu begitu luar biasa sampai manusia hanya bisa memahami setitik tentang Tuhan. Ibarat berlian dengan banyak sisi yang indah, setiap agama hanya mampu menangkap salah satu sisi tersebut.

        Untuk itu saya setuju jika pilihan agama baik dengan alasan menikah tidak bisa dipaksakan oleh masing-masing pihak. Percuma toh kalau kita malah terpaksa dalam menjalankan ibadah kita jika tidak dilakukan sepenuh hati.

        Terus menulis tulisan inspiratif Mas Gandeng.
        Ridwan

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: